Jumat, 04 Juli 2014

Dateng ke Rumah Soleh Solihun

Sekarang, saya kuliah di Jurusan Jurnalistik Fikom Unpad. Salah satu hal yang bikin saya betah di Jurnal adalah tantangan-tantangannya yang selalu menarik dan selalu bikin saya dapet pengalaman baru. Coba tanya ke beberapa jurnalis (yang betah dan masih kerja), kenapa mereka bisa betah jadi jurnalis walaupun kerjaannya capek. Berani taruhan dengan saya, mereka pasti betah karena mereka selalu mendapatkan hal-hal baru dan pengalaman baru.

Jangan ngomongin tentang duit dengan seorang jurnalis. karena kerja jadi jurnalis bukan tentang seberapa banyak kita mendapatkan uang. tapi tentang seberapa banyak kita mendapatkan pengalaman. kerja jadi jurnalis adalah kerja yang berdasarkan passion. 

Ngomongin tentang pengalaman, saya dapet pengalaman baru ketika ditantang membuat sebuah berita profil tentang Alumni Fikom Unpad. Tantangan itu langsung saya penuhi  dengan datang ke rumah seorang penyiar dan stand up comedian  Soleh Solihun untuk wawancara. Yap, Soleh adalah Alumni Fikom Unpad '97 yang udah terkenal. Intinya, wawancara saya denngan Soleh adalah tentang bagaimana pengaruh dunia kampus untuk seorang Soleh Solihun. 








Soleh Solihun:
Pengaruh Dunia Kampus
Bagi Si Pembawa Acara Kesayangan Anda


“Nama Saya itu gak ada rocker-rockernya, harusnya mah jadi ustad”

Mungkin bagi Anda yang sering menonton acara stand up comedy, sudah tidak asing dengan petikan kata-kata di atas. Itulah candaan yang sering dilontarkan oleh Soleh Solihun. Pria Sunda kelahiran Bandung, 2 Juni 1979 yang kini tengah digandrungi anak muda karena aksinya yang kocak di atas panggung. Selain menjadi stand up comedian, Soleh dikenal sebagai seorang presenter, penyiar INDIKA FM Jakarta, dan aktor dalam film Cinta Brontosaurus.

Dengan banyak label yang melekat dengannya, alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 1997 ini menganggap bahwa dirinya adalah orang yang biasa saja. “Soleh Solihun menurut saya hanya orang yang ingin bahagia dan tidak terlalu memikirkan apa kata orang lain. Tapi, panggil saja saya pembawa acara kesayangan Anda” jawab Soleh ketika ditanya tentang dirinya sendiri.

Di balik sosok Soleh Solihun yang kini menjadi orang yang tampil di depan layar, ternyata sebelumnya Ia sempat menjadi jurnalis. Kemampuannya dalam mengolah kata-kata ditampilkan di beberapa media seperti Bintang Millenia, Tabloid Potensi, TRAX Magazine, Playboy Indonesia, dan terakhir Rolling Stone Indonesia sebagai Editor. Dari tulisan-tulisannya di media massa, Soleh mendapatkan penghargaan di Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007 dalam bidang Feature Seni dan Budaya.
Namun, karir kewartawanannya terpaksa harus diakhiri karena manajemen Rolling Stone Indonesia memberhentikannya akibat kesibukan Soleh yang menerima pekerjaan stand up comedy dan siaran di INDIKA FM. “Sebenernya saya kerja di luar jam kerja. Siaran jam tujuh sampe jam sembilan pagi. Padahal jam kerja mulai jam sepuluh. Tapi, karena siarannya setiap hari, dianggapnya jadi kerja di dua perusahaan” jelas Soleh ketika ditemui di Coridia Residence, Cinere, Depok.

Karena pemecatan itu, kini Soleh memutuskan untuk berhenti menjadi jurnalis dan fokus kepada pekerjaan lain. Pekerjaan Soleh yang kini menjadi pelampiasannya adalah menulis buku. Beberapa waktu yang lalu, Ia menerbitkan buku yang menceritakan tentang dirinya dan dunia kewartawanan. Judul buku yang Ia tulis diantaranya adalah  Celoteh Soleh dan Kastana Membakar Jakarta.
Hal yang belum Ia capai dalam dunia penulisan adalah menerbitkan buku biografi band pionir hardcore Bandung, Puppen. Dari tahun 2006 sebenernya saya udah nulis dan wawancara. mungkin karena kesibukan, kerjaan ini jadi gak beres-beres. Padahal kalau bukunya sudah beres, band itu bakal reuni” jelas pria yang mengidolakan sosok Iwan Fals ini.

Pengaruh Fikom Unpad bagi Soleh Solihun
Saat Ia duduk di bangku perkuliahan, Ia membuat satu pergerakan dengan menerbitkan satu media yang terbit secara independen tanpa dana bantuan dari kampus. Media itu bernama Karung Goni. Media itu Ia dirikan Tahun 1999  bersama tiga orang temannya yang berbeda-beda jurusan. Karung Goni itu sendiri adalah media yang dibuat karena mereka (soleh, dkk) tidak merasa terwakili dengan media-media yang saat itu sedang serius-seriusnya. Walaupun awalnya dianggap remeh temeh oleh para dosen dan aktivis kampus, ternyata media ini sangat diminati dan selalu dirindukan oleh mahasiswa Fikom Unpad era akhir 90an.

Hal yang membuat Soleh menjadi seperti sekarang ini sebenarnya adalah pengaruh dunia Kampus. Ia mengaku, semua hal yang Ia kerjakan sekarang adalah buah dari kesibukannya saat di Kampus Fikom Unpad. 

“Aktivitas di kampus itu ngaruh banget buat saya sampai hari ini. Saya bisa nulis bagus dan jadi jurnalis itu karena belajar di kelas Pak Sahala. Saya bisa jadi MC dan stand up comedy itu karena dulu saya sering jadi komentator bola pas di acara Kampus” jelasnya.

Soleh berpesan kepada para Mahasiswa untuk jangan hanya fokus pada kuliah di kelas saja. Seharusnya, mahasiswa perlu mengembangkan soft skill yang bisa didapatkan di luar kelas.


“Kalo kuliah doang, tapi gak pinter gaul, percuma. Di kampus itu paling enak buat eksplorasi segala macem. Saya bikin buku, bikin majalah kan itu sebenernya simulasi dunia kerja. Enaknya di kampus itu kalo salah bisa dimaklumi kan namanya juga mahasiswa, masih belajar. Kalo bagus, bisa langsung dipuji-puji” tutup Soleh. (Surya Fikri Asshidiq)


Koleksi buku musik Soleh

Anak Soleh yang Namanya Iggy Kastara

Foto saya bersama Soleh Solihun

Sakali deui


Kamis, 03 Juli 2014

Tutorial Hijab bersama Kodok Ijo dan Iksal Rizqi

Entah mereka baru baca buku Felix Siauw, entah kerasukan apa, dua manusia dari planet krismon ini membuat Tutorial Hijab. Tutorial ini cuma ada dua langkah, dan langkah yang paling tepat adalah nyuruh orang buat masangin hijab.

Jangan sensi ah, da heureuy ieu mah.



Akustikan Si Pino



Udah lama gak nulis blog, jadi lama juga gak ngupdate tentang si Pino alias band saya. akhir-akhir ini emang udah jarang si Pino manggung, salah satu alasannya karena sang vokalis alias Areef Kribo sedang disibukkan dengan kerjaannya di Toko Obat daerah Jl Sulanjana Bandung.

Areef Kribo yang udah gak terlalu kribo

Tapi, jarangnya si Pino manggung bukan berarti band ini jadi bubar (anjis, belum ada niatan juga buat bubar). Band ini tetep jalan kok, walaupun pada akhirnya, ketika si Kribi kerja dan gak bisa manggung, harus ada vokalis dadakan.

Nah, di bawah ini adalah video-video yang diambil dari panggung-panggung yang alakadarnya, acara akustikan kolektif yang ngundang si Pino buat nyanyi. termasuk ketika saya jadi vokalis dadakan dan ditengah show mati lampu.


Cover Lagu Motion City Soundtrack - Everything is Alright


Saya jadi vokalis dadakan di Acara Ikopin

Di tengah show, Mati Lampu



Sabtu, 28 Juni 2014

Ngeblog Deui

Hai,

Kayaknya udah bosen ya. selalu bikin postingan soal pengen nulis blog lagi tapi males. Wacana kayak gini dari kapan ya? dari setahun yang lalu kayaknya.

Kalo dipikir-pikir apa poin penting saya harus nulis blog? buang-buang waktu. masalahnya, apa yang saya tulis adalah tentang kehidupan pribadi saya. bukan yang kayak tulisan-tulisan Goenawan Mohammad atau Pramoedya Ananta Toer gitu yang amat sangat sastrawi dan ada ngaruhnya untuk Indonesia. Ah da aing mah naon atuh. orang kecil. pake sarung juga logor kabeh.

Kemaren-kemaren mau nulis tapi asa gimana gitu. keganggu sama semua hal yang saya pelajari di kuliahan. tentang terlalu ringan lah, gak jurnalistik banget lah, atau gak cerdas lah. padahal ini blog saya sendiri yak, bukan blog milik siapa-siapa.

Dengan rasa senang, saya kembali nulis blog tanpa peduli nulis yang ideal itu kayak gimana. gini nih, terlalu banyak ngurus tugas kuliah. jadi seakan-akan kita jadi sesuatu yang dosen mau. bukan yang kita mau. kadang sesuatu yang kita anggap "kita banget" ini jadi makin ilang demi sebuah nilai di atas kertas putih.

Intinya, sekarang mah blus-blos aja, tuangkan semua hal yang pengen saya tuangkan lewat catatan elektronik ini. Ternyata mendokumentasikan peristiwa itu emang menyenangkan. coba deh. iya sekarang di coba!











Rabu, 07 Agustus 2013

#asajiga part 2



sutradara yang galau

sempet terkenal pas kasus pidio  panas antara 
istrinya dengan om lanjut yang tadi

bedanya yang kiri terlihat sedih seperti mikirin hutang

kalo sering liat Tukang Bubur Naek Haji
ini merupakan gambaran masa mudanya

bedanya perut kaliya sama si Arie mah ada tambahan
dari joe P-Project bengeutna teh.


Duta Sheila On 7. beda nasib doang.

Armand Maulana kalo dibotakin bakal kayak gini 

bukan ada kakak, gak punya hubungan keluarga
tapi mirip =))

kiper timnas yang galaw

guru basa sunda saya jaman SMA ternyata pinalis X-paktor =))



\
tegar pengamen beberapa tahun yang akan datang


briptu norman masa SMA =))

pernah maen game Bully?
tuh gambaran aslinya =))

Itu part 2 nya barudaks. kayaknya akal bersambung lagi. kalo mencari perbedaan tu bikin ribut, maka lebih baik kita mencari persamaan supaya bisa menertawakan duru sendiri =))


#asajiga part 1

Makin hari dunia makin seragam. mulai dari gaya, cara menggunakan pakaian (fashion), sampe muka.
masalah keseragaman itu terjadi pada teman-teman saya. makin hari dan makin dilihat mereka berubah menjadi sosok yang mirip. 

yah dengan kesotoyan dan sedikit sentuhan sotosop saya rangkum kemiripan-kemiripan mereka =))




afif dengan segala konspirasinya

kalo kalian pernah nonton pillem semi biru korea
si Azis dogmon ini bisa jadi pemeran utamanya

men in black yang gagal

nah kalo si blek ini,  mirip pemeran pilem 
pulp fiction yang legendaris itu.

neng neng nong neng.
pernah booming gara2 ahmad dhani
beli lagunya. 

wajah pokalis pino ini hampir mirip Bart Simpsons
tinggal dikonengan beungeutna

edisi olahraga : pemaen persib vs pemaen BMX

ini yang gitaris Dragonforce yang mana ya?


Itulah #asajiga sesi pertama. baka  bersambung lagi barudaks =))





Sabtu, 13 Juli 2013

Ngontay Bersama Muchos Libre





Apa jadinya kalau pertunjukan musik di kolaborasikan dengan pertandingan gulat WWE? Sepertinya hal itu bisa divisualisasikan oleh band Surf rock/Oldschool Punk asal bandung bernama Muchos Libre. Band yang terbentuk pada tanggal 12 juli 2010 ini, diisi oleh sejumlah personil gila seperti: Dilla Bagongtempur (vokal), Dally Korongmentah (vokal), Adie emo (bass), Iky Kunjay (gitar), Cantyka Makibao (gitar), dan Hilman Hakimimasa (drum).  

Nama Muchos Libre sendiri diambil dari bahasa spanyol yang artinya “banyak gratisan”. Dan dari nama tersebut sepertinya Muchos Libre ingin menempelkan makna nama tersebut di CD rilisan EP (Extended Play)  pertamanya. Pasalnya, gimmick-gimmick yang mereka buat untuk menjual EP bisa dibilang cukup unik. Dengan semangat kebebasan dan gratisan tersebut mereka membuat EP yang membuat banyak orang termasuk saya sendiri terheran-heran dengan harga dan segala bentuk packagingnya.

Kedua frontman dari Muchos Libre, Dilla dan Dally bertemu dengan saya beberapa waktu yang lalu di salah satu restoran terkenal di Cinunuk untuk ngontay-ngontay sedikit  mengenai debut EP mereka yang baru saja dirilis beberapa minggu yang lalu. 


PART 1 (Seputar Band)

PART 2 (Seputar EP Viiva La Libre)